Dalam sejarah Indonesia, bangsa Indonesia kerap berinteraksi dengan bangsa asing dalam sejumlah kesempatan, salah satunya melalui jalur perdagangan. Ratusan tahun lalu masyarakat juga berdiaspora. Tak heran banyak sekali budaya yang datang dari negara atau daerah lain, dan kemudian juga berkembang di berbagai daerah di Indonesia. Salah satunya permainan Mancala, yang di Jawa kita lebih dikenal dengan istilah Dakon atau Congklak. Di Lampung, permainan congklak dikenal dengan nama dentuman lamban, sedangkan di Sulawesi, dikenal dengan nama mokaotan, maggaleceng, aggalacang, dan nogarata.
Mancala, yang berasal dari bahasa Arab Naqala yang berarti bergerak, merupakan salah satu permainan kuno. Salah satu bukti arkelogis adalah temuan papan permainannya yang berusia 7000-5000 tahun. Dakon dan mancala kurang lebih cara bermainnya sama. Sebanyak dua pemain akan saling berhadapan dan berlomba untuk mengumpulkan jumlah biji terbanyak, dengan cara mengambil biji dari salah satu lubang dan meletakkannya satu-persatu dengan arah berlawan dari jarum jam (counter-clockwise).
Pada tahun 2022, Congklak tercatat sebagai salah satu warisan budaya tak benda oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Indonesia dari DKI Jakarta
(https://referensi.data.kemdikbud.go.id/budayakita/wbtb/objek/AA000943) sedangkan Mancala terdaftar dalam list Warisan Tak Benda Dunia secara Multinasional, dari Turki, Kirgistan, dan Kazakhstan sebagai Mancala, Togyzqumalaq, Toguz Korgool, dan Göçürme
(https://ich.unesco.org/en/RL/traditional-intelligence-and-strategy-game-togyzqumalaq-toguz-korgool-mangala-gocurme-01597).
Namun daftar list warisan tak benda dunia UNESCO bukanlah pengakuan hak cipta. UNESCO justru mendorong budaya sebagai jembatan antar budaya bangsa. Congklak juga bisa dinominasikan dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda UNESCO melalui metode extension, seperti halnya Kolintang yang di extensi pada budaya Balafon di Mali.
